Sekolah itu Candu

Sekolah itu Candu

Oleh Zean Elhamas B.

Etimologi kata sekolah berasal dari bahasa Latin, schola, yang berarti waktu luang, waktu senggang. Pada zaman Yunani kuno biasanya orang-orang mengisi waktu luang dengan cara mengunjungi suatu tempat, atau orang pandai untuk menanyakan atau mempelajari apa saja yang mereka anggap sangat dibutuhkan dalam hidup. Namun, pada abad pertengahan tepatnya saat zaman kegelapan di Eropa, banyak kaum intelektual terbunuh dan oleh karena itu  sekolah yang semula menggunakan Model ‘Gentong’ berganti  Model ‘Kendi’, dan Model ‘Kendi’ itu yang berlangsung hingga saat ini.

Sudah berapa tahun kita menghabiskan waktu di sekolah? Saya sendiri jika dihitung sejak TK hingga sekarang menghabiskan 12,5 tahun. Tentunya, konteks sekolah yang kita diskusikan di sini dimaknai sebagai pendidikan formal. Sekolah bukan satu-satunya lembaga yang berkontribusi untuk mencerdaskan bangsa, kata Roem Tomatimasang. Bila itu kita renungkan, mungkin kita akan menjawab bahwa memang sekolah bukan satu-satunya tempat untuk belajar.

Memahami tentang pendidikan dan sekolah, tidak bisa kita pungkiri bahwa pendidikan dan sekolah adalah arena yang bertujuan untuk mewujudkan generasi mendatang yang berakhlak mulia, berpikir ilmiah dan terampil dalam segala bidang ilmu. Begitu bukan tujuan dari pendidikan kita? Ya, tujuan yang hebat memang diperlukan.

Bagi saya, sekolah adalah arena kompetisi dan kontestasi. Sekolah adalah ruang publik, banyak pihak memiliki kepentingan. Siapa pun bisa memiliki kepentingan atas terselenggaranya sebuah pendidikan, baik secara politis, sosial, maupun kultural. Lebihnya kelompok-kelompok organisasi yang menjadikan sekolah sebagai agen kaderisasi dan regenerasi maupun internalisasi nilai-nilai organisasi.

Kelompok pebisnis juga berkepentingan yang tak kalah hebatnya, berbagai macam perangkat pendidikan dibuat, diciptakan seolah-olah atau bahkan memang menjadi kebutuhan primer untuk terselenggaranya sebuah pendidikan. Kurikulum dan standardisasi dibisniskan. Alternatif-alternatif pendidikan diciptakan, katanya sih untuk meningkatkan kualitas anak didik. Yah, katanya.

Mau sekolah itu candu atau bukan, yang terpenting dari sebuah proses pembelajaran adalah what were you born to be?

Hanya intermezzo, tulisan ini mengingatkan saya pada lirik lagu “Another Bricks In The Wall” dari Pink Floyd : “…we don’t need, no education” dan sambil menulis, saya mendengarkan lagu itu beberapa kali. Salam Pink Floyd!

 

 

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *